Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

23 September 2007

Arti sebuah Pesta Pernikahan Oleh : Ely Susanti

Wah! Hari ini saya akan makan steak gratis!!

Lucu juga rasanya dijaman yang sudah serba modern masih ada juga "makcomblang" yang mungkin sekarang sudah dipoles dengan nama lain yang tetap tugasnya sama : mempertemukan pria dan wanita yang sedang mencari pasangan untuk menikah.

Dan karena jadi makcoblang inilah saya jadi makan steak gratis.



Teman saya seorang wanita yang cukup cantik, menarik, energik dan mandiri, di usianya yang belum 25 sudah bingung mencari pasangan untuk menikahinya.

Dan rasanya fenomena ini ada dimana mana, apa lagi didukung statistik yang menyatakan bahwa jumlah wanita di dunia 3 kali lebih banyak daripada pria, yang berarti kesempatan cari jodohnya juga lebih kecil untuk wanita.

Yang menarik perhatian saya adalah setelah saya bertanya kepada (beberapa) teman wanita saya yang sering saya comblangin, kenapa mereka ingin menikah?

Jawbannya cukup membuat saya kaget, rata-rata adalah tidak tahu, karena orangtua sudah mendesak atau karena sudah seharusnya menikah tho?? Begitu kebanyakan dari mereka mendasari keinginannya untuk menikah.

Saya juga sering bertanya pada para mahasiswi yang menjadi crew saya bila ada event, apakah kalian ingin menikah suatu hari nanti? Jawabannya pasti YA! Dan kalau di tanya kenapa, banyak yang tidak jelas kenapanya bahkan banyak juga yang bilang karena impian dari kecil ingin pakai baju pengantin yang cantik dan menjdai seorang putri atau ratu sehari.

Wow!! Saya dan teman-teman semasa kuliah juga sering melihat pasangan yang mengadakan pesta pernikahan sebagai seorang putri dan pangerannya, rasanya begitu romatis, begitu menyenangkan dan bahagia. Seakan akan kita melihat itulah akhir dari film/cerita kehidupannya yang berakhir dengan pernikahan dan bahagia selamanya seperti dalam dongeng yang sering diceritakan pada masa kanak-kanak kita.

Setelah mengalami sendiri, pernikahan yang sesungguhnya bukan dilihat dari indahnya pesta, bukan dilihat dari betapa romantis dan hebatnya acara yang digelar atau bukan hanya kebahagiaan yang terpancar pada hari itu saja.

Seandainya kita akan memulai suatu usaha baru, kita tentu merancang dulu, apa tujuan kita mendirikan perusahaan, apa visi dan misinya dan aturan-aturan apa yang harus dijalani untuk mensukseskan perusahaan tersebut.

Saya rasa ini mirip dengan pernikahan, dalam pernikahan akan sangat baik kalau kita mengerti mengapa kita mau menikah, apa visi dan misi pernikahan kita dan apakah ada aturan-aturan yang harus dijalani (yang sangat tidak disuka pasangan dan saya).

Dalam tugas saya sebagai Wedding Organizer sering kali saat konsultasi awal akan ada beberapa hal dimana calon mempelai wanita akan menginginkan hal ini dan itu dan disatu pihak orangtua pria atau bahkan mempelai pria sendiri tidak suka/tidak mau, dan menginginkan hal yang sangat berbeda. Diawal biasanya terjadi pertahanan keinginan dan pada saat terpisah dimana saya bersama calon mempelai wanita berdua, saya selalu menyarankan untuk mengalah dan memberikan sedikit kompromi untuk mendapatkan jalan tengah, dengan memberikan pengertian bahwa arti pernikahan sebenarnya bukan terletak pada kesempurnaan acara menurut kita, walaupun pernikahan sekali seumur hidup dan adalah moment yang ditunggu wajar kalau kita ingin membuatnya sempurna seperti yang kita mau. Tetapi dibalik pesta pernikahan ada yang jauh lebih penting, menghargai keinginan dan pendapat pasangan, keharmonisan hubungan antar keluarga, kebahagiaan orangtua, rasa hormat atas orangtua dan rasa terimakasih atas kebaikan orangtua telah membesarkan pasangan kita dan mau menerima kita sebagai anaknya. Lagipula sukses pernikahan tidak dilihat dari pestanya, masih banyak tantangan dibelakang itu, dari sini saya akan membimbingnya membuat tujuan, visi dan misi pernikahan. Dengan memberikan pengertian diatas, selanjutnya sangat mudah membuat mereka menemukan kata sepakat dan terjadilah sebuah pesta pernikahan yang benar-benar indah karena mengandung keharmonisan, rasa hormat dan rasa terimakasih dan cinta yang sesungguhnya.

Karena rasa cinta dan pengertian yang terpancar hari itu akan mendasari hari-hari berikutnya dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan semoga cinta dan pengertian yang tulus bisa menjadi pegangan apabila ada badai yang sedang ’melewati’ kehidupan rumah tangga nantinya.

Hidup kita bukan seperti dongeng yang berakhir hanya pada sebuah pesta pernikahan yang meriah, setelah pesta usai masih ada tantangan yang harus di hadapi dan untuk meraih kebahagiaan dalam rumah tangga kita memang harus berusaha, karena kebahagian itu tidak datang dengan sendirinya.

Salam cinta dan semoga berguna

Copyright@Ely Susanti – maret.2007

Selengkapnya..

30 Agustus 2007

Pawang Ucing

Ucing, ucing jangan nakal ya, nurut sama Yaya
Eeeeh mau kemana kamu ucing.....?
Koq ucing ga mau mimi cucu, ntar biat cepet gede kaya Yaya

Selengkapnya..

24 Agustus 2007

SI KECIL TAKUT PADA AYAHNYA

Tak perlu khawatir, asalkan kedua orang tua tetap kompak dalam menerapkan nilai-nilai dan disiplin pada anak.

“Walau saya sudah ngomel-ngomel untuk melarangnya, dia tetap saja melakukannya, seolah tak memperhatikan dan tak dengar. Lain hal kalau ayahnya yang melarang, baru, deh, didengar. Bahkan sampai menangis segala,” ungkap seorang ibu perihal putrinya yang berusia 2 tahun dan tak pernah “takut” padanya.

Pengalaman ini rasanya tak asing bagi kaum ibu yang punya anak batita, bukan? Walau kita marah habis-habisan, tapi, kok, anak adem-ayem saja alias tak ada takutnya. Lain hal jika sama ayahnya, baru diperingati sedikit saja atau baru sekali saja diperingati, anak bisa langsung diam, kadang menekukkan wajahnya karena takut.

Memang, menurut Dra. Risa Kolopaking dari Fakultas Psikologi UI, umumnya anak takut pada ayah. “Seharusnya, sih, anak tidak takut pada kedua orang tuanya, ataupun pada salah satu orang tuanya, karena takut ini menyeramkan buat anak.” Selain itu, jika anak takut pada salah satu orang tua, maka akibatnya anak pun hanya bisa dekat pada salah satu orang tua saja, entah ayah atau ibunya saja.

Anak juga tak mendapat kesempatan yang sama atau seimbang untuk belajar dari jenis kelamin yang berbeda. “Memang anak juga bisa belajar peran dari orang di luar rumah, tapi alangkah baiknya kalau kesempatan itu datangnya dari dalam rumah, yaitu dari orang tuanya sendiri.” Karena bagaimanapun, bila orang tua punya peran yang seimbang, anak akan lebih banyak belajar dalam kehidupannya. Anak dapat mengembangkan kemampuan sosialisasi yang baik dalam kehidupan bermasyarakatnya kelak, misalnya dalam hubungan sosial dengan lawan jenis.

POLA ASUH ORANG TUA
Anak yang takut pada orang tua, terang Risa, adakalanya dalam situasi tertentu saja, misal kalau orang tuanya marah. “Tapi kalau dalam kondisi biasa saja, rata-rata anak tidak takut.” Takutnya bisa karena suara si orang tua yang sedang marah memang keras, pun kala melarangnya, “Awas, tidak boleh!” Sebab, suara keras akan membuat anak kaget, ciut perasaannya, dan akhirnya takut, meski mungkin saja sebenarnya dia pun tak terpikir akan diapa-apakan.

Maka itu, kalau orang tua hendak melarang sesuatu pada anak, saran Risa, tak perlu dengan suara keras dan marah-marah. “Bisa gunakan dengan kelembutan dan dengan tetap memberinya penjelasan, ‘Jangan main air, ya, De. Kamu, kan, sudah mandi, nanti bajunya basah lagi’, misal.”

Selain itu, takutnya anak pada salah satu orang tua juga bisa karena pola pengasuhan dari orang tua itu sendiri. Bisa saja orang tuanya bersikap otoriter dalam menerapkan aturan dan disiplin, sehingga anak takut pada keduanya atau pada salah satunya. “Umumnya, anak takut pada tipe orang tua yang bersikap otoriter. Orang tua bersikap sangat berkuasa, kehendaknya harus dituruti tanpa memahami keinginan dan kebutuhan si anak, hal ini kadang membuat ciut anak.”

Sebetulnya, papar Risa, orang tua tak perlu bersikap otoriter dalam hal menerapkan disiplin atau aturan. Tapi sebaiknya lebih pada pendekatan terhadap si anak. “Sebab, setiap anak berbeda, sehingga menghadapinya juga harus berbeda pula. Ada yang harus dihadapi dengan lembut dan ada yang harus dengan sedikit keras. Tapi pada intinya, anak itu kalau sudah diberi penjelasan, mana yang boleh dan tidak, dan diberitahu alasannya, mereka pun akan belajar sesuatu dan mengerti, kok.”

Memang, kadang ada anak yang mengerti seketika itu juga akan apa yang kita harapkan untuk dikerjakan, tapi ada pula yang mengerti dan hanya sekadar masuk telinganya dan jadi pengetahuannya saja, tapi tidak dia lakukan saat itu. “Jadi, kalau dikatakan tak boleh, dia tetap saja melakukan hal itu.

Sebenarnya, untuk masalah kontrol ini, papar Risa, bisa kita berlakukan reward dan punishment. “Bila anak melakukan seperti yang kita harapkan, kita beri dia hadiah berupa pujian atau dukungan.” Sebaliknya, bila ia tak melakukan apa yang kita harapkan, terapkan punishment. Hanya saja, jangan berupa hukuman fisik, tapi lebih ke arah mengurangi kesenangannya.

PERAN JENIS KELAMIN ORANG TUA
Peran jenis kelamin orang tua juga sangat berpengaruh pada rasa takut anak. Ayah umumnya bersikap tegas dibanding ibu yang biasanya bisa lebih longgar. Walaupun mungkin ibu lebih banyak melarang dibanding ayah, misal dalam hal disiplin, tapi kalau ayahnya yang melarang sesuatu, alasannya selalu tepat dan jelas, sehingga anak tahu kalau yang dia perbuat itu salah. Dengan demikian, begitu ayahnya memberitahunya, melarangnya, hal itu masuk ke dalam hatinya. Ia jadi takut kalau salah.

Kalau pada ibu, karena anak merasa dekat, maka ia pun bisa lebih bernegosiasi. Harus diingat pula bahwa pada tahap-tahap tertentu, kedekatan anak terhadap ibu masih sangat besar, walau peran ayah juga penting, tapi mungkin tidak utama. Jadi, kalau dimarahi atau dinasehati ibu, dia pun seolah tidak mendengar. Bahkan bisa jadi dia malah mengatakan, “Sebentar lagi, ya, Bunda,” atau kalimat merayu lainnya. “Itu, kan, pertanda ia melakukan bargaining.” Juga, anak berani untuk mengungkapkan sesuatu. “Sebenarnya ibu pun bisa menggunakan ini sebagai senjata untuk membuka komunikasi dengan anak, misal, ‘Iya, boleh, tapi sebentar saja, ya, main airnya. Ibu beri waktu 5 menit lagi.’”

Hubungan antara orang tua dan anak pun ada pengaruhnya pada rasa takut anak. Misal, pada anak perempuan, ada sisi-sisi tertentu dari ayah yang bisa membuatnya merasa nyaman dan senang. Mungkin dalam hal bermain. Kadang ibu banyak urusan rumah tangga sehingga kesempatan bermain dengan anak lebih sedikit, sementara ayah mungkin urusan rumahnya tidak sebanyak ibu sehingga kesempatan bermain bersama anak lebih banyak. Ada hal-hal yang menyenangkan bagi anak dari ayahnya. “Bisa saja anak takut salah atau takut tidak disayang oleh ayahnya lagi ketika si ayah yang disenanginya itu melarangnya.”

Bukan itu saja, terang Risa, setiap orang tua pun berbeda-beda. Ada orang tua yang tak senang dengan anak kecil, tak sabaran dan merasa kesal kalau anaknya bermain dan menumpahkan sesuatu, tapi ada juga yang sebaliknya, penuh kesabaran. “Nah, sifat-sifat orang tua juga berpengaruh pada anak.” Jadi, kalau ayahnya melarang, dia akan mendengar karena ayahnya selalu sabar menjelaskannya. “Jangan main air dulu, ya, tapi makan dulu. Biar kamu tak kedinginan dan sakit perut,” misalnya. Sehingga anak paham betul bahwa main air tak boleh karena apa. Lain hal dengan ibunya yang tak sabaran, belum apa-apa sudah teriak-teriak, tanpa menjelaskan penyebab tak bolehnya, juga tidak memahami maksud si anak, sehingga anak pun menentang duluan. Dia akan berpikir, “Pasti, nih, apa yang aku buat selalu tidak boleh, dilarang terus.” Sehingga larangan atau omelan si ibu pun akhirnya hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.

Sebenarnya, papar Risa, ada baiknya juga ayahlah yang ditakuti anak. Justru harus hati-hati bila yang ditakuti adalah ibunya. “Karena kalau ia takut pada ibu, maka ada kemungkinan ia tak dekat dengan ibunya. Padahal seharusnya anak pada masa batita itu lebih dekat dengan orang tua perempuan. Masa-masa batita dan balita, sebenarnya peran ibu masih lebih kuat dan dibutuhkan. Kalau sampai ibunya ditakuti, biasanya akan ada kehilangan sesuatu dalam perkembangan kejiwaannya.”

AYAH DAN IBU HARUS KOMPAK
Yang jelas, jika salah satu orang tua merasa kesulitan karena anaknya tak bisa diberitahu, misalnya, saran Risa, orang tua perlu introspeksi diri apa yang menyebabkan si anak hanya takut pada salah satu orang tuanya saja.

Sebaiknya pula, kedua orang tua jangan saling membandingkan. “Memang terkadang ada kebanggaan tersendiri pada diri orang tua, misal ayahnya, kalau anak lebih mendengar dirinya. Nah, hal seperti itu sebaiknya jangan diperlihatkan di depan anak. Biarkan anak tahu bahwa antara ayah dan ibu setara. Mereka punya kesamaan hal untuk melarangnya.” Walaupun demikian, pesan Risa, orang tua juga jangan asal melarang anak. Melainkan harus menjelaskan, apa, sih, yang menyebabkannya tidak boleh? Jadi, pelarangan itu ada keterangannya sehingga si anak pun paham.

Jika si ibu membuat keputusan, sebaiknya ayah membantu si ibu. Ketika si ibu melarang sesuatu atau marah pada anak, “Kamu tak boleh itu!”, maka ayah pun harus mendukung si ibu, “Sudahlah, De, kan kata Ibu juga tidak boleh.” Jadi anak pun tahu kalau baik ayah maupun ibunya tak suka.

Boleh juga daripada capek-capek, lalu si ibu menyerahkan pada ayahnya, misal, “Nih, Yah, anaknya susah diberitahu.” Hal ini boleh-boleh saja selama ayah dan ibu kompak dalam menerapkan suatu disiplin. Jadi, ibu ada komunikasi dengan ayah untuk mendisiplinkan si anak. Hanya saja, sambungnya, seringkali yang terjadi ayah dan ibu tak kompakan.

Padahal dengan kompak, maka ada peran yang seimbang antara kedua orang tua, sehingga anak pun bisa belajar untuk kehidupannya. “Kalau anak cukup mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, lingkungannya juga baik dan benar secara seimbang, maka anak pun bisa belajar dari situ.”

Selain itu, dalam hal disiplin pun anak jadi tak bingung, nilai mana yang mau dipilih, karena si orang tua kompak. “Kalau anak bingung, akibatnya anak-anak seperti ini bisa jadi tidak percaya diri atau tak acuh sama sekali atau tak bisa disiplin.” Bahkan bisa jadi, salah satu orang tua bisa diremehkan. “Anak jadi tahu cara tricky untuk mencari situasi yang menyenangkannya. Misal, dilarang ayahnya, dia pun lari ke ibunya. Jadi dia tidak belajar suatu nilai yang seharusnya dia pelajari, tapi hanya mencari amannya saja.”
http://www.kumpulbocah.com/2006/01/08/si-kecil-takut-pada-ayahnya/

Selengkapnya..

Sikap Ayah Pengaruhi Perkembangan EQ Bayi

Sikap ayah dari hari ke hari dan dari bulan ke bulan ternyata bisa mempengaruhi EQ bayi. Jika si Ayah suka nempilkan wajal sebal, si bayi konon mengamati dan ikut-ikutan menampilkan wajah sebal juga. Jika si Ayah suka cemburu, eh si bayi juga konon begitu juga.

Usia 0 - 3 Bulan

Hubungan emosional bayi dengan ibunya sudah ada sejak dalam kandungan, demikian kata sebagian pakar. Bayi bisa tahu bila ibunya dalam keadaan stres atau tenang. Jika ibu stres, biasanya bayi ikut rewel, cengeng, dsb.). Jika ibunya tenang, bayi pun tenang. Jika saat ini ibu stres akibat kecemburuan ayah terhadap bayi (yang ditunjukkan lewat perbuatan atau kata-kata yang negatif), otomatis, bayi pun bisa merasakannya dan ikut-ikutan stres.

Sebagian pakar lain mengatakan bahwa hubungan bayi dengan orangtuanya mulai terjalin saat ayah ibunya memberinya minum, menggendong, mendekap, dan menenteramkannya. Kualitas hubungan bayi dengan ayah ibunya di masa ini akan mempengaruhi proses perkembangan keterampilan sosialnya nanti. Jika kecemburuan ayah sampai memperburuk kualitas hubungannya dengan bayi, dikhawatirkan buruk pula proses perkembangan keterampilan sosial si kecil nantinya.

Saat berusia 3 bulan, bayi mulai berminat berinteraksi sosial lewat tatap muka, terutama wajah kedua orangtuanya. Ia akan belajar banyak hal lewat pengamatan dan peniruan bagaimana ‘membaca’ dan mengungkap emosi. Inilah tahap untuk secara aktif mulai melatih emosi bayi. Apa jadinya bila ayah sering menampilkan wajah sebal atau malah membuang muka setiap kali bayi menatapnya? Maka bayi akan mengamatinya, membacanya, dan ikut-ikutan sering menampilkan wajah sebal.

Usia 6 - 8 Bulan

Di usia ini bayi mulai menemukan cara baru untuk mengungkapkan perasaan hatinya, semisal sedih, gembira, takut, marah, dsb. kepada sekelilingnya. Jika sebelumnya ia hanya mampu memikirkan benda atau manusia yang ditatapnya saat itu, sekarang ia sudah bisa memindahkan perhatiannya sambil tetap mengingat objek/manusia tanpa harus menatapnya lagi. Kalau ia senang dengan bola merahnya, ia akan memandang orang tuanya atau orang lain sambil menyampaikan rasa senangnya (lewat senyum, ocehan, atau gelak tawa). Inilah dasar kemampuan untuk bermain dan berinteraksi secara emosional nantinya. Jika bayi lebih banyak merasa sedih/takut pada ayahnya yang galak atau ketus dibakar cemburu, ia akan selalu menatap sekelilingnya dengan ekspresi begitu pula. Mengenaskan, ya!

Usia 9 - 12 Bulan

Di rentang usia ini, bayi mulai memahami bahwa manusia dapat membagi gagasan dan emosi mereka satu sama lain. Bila ayah atau ibu bertanya kepada bayi, “Dedek lagi kesal, ya?”, bayi dapat memahami bahwa orangtuanya ternyata bisa membaca atau mengetahui suasana hatinya. Dengan kata lain bayi mulai memahami bahwa dengan menunjukkan ekspresi tertentu, ia atau orang lain dapat berbagi emosi.

Jika ayah yang cemburu keapda bayi selalu menunjukkan ekspresi negatif (acuh tak acuh, sebal, kesal, dsb.), bayi pun mengetahui suasana hati ayahnya sedang tak bersahabat. Dan jika bayi selalu menjumpai ayahnya dalam keadaan seperti ini, ia pun cenderung menghindar dari sang ayah. Dengan begini, bayi akan kekurangan kasih sayang ayah. Padahal, menurut Robin Skynner, pendiri dan pengajar pada Institute of Family Therapy, Inggris, kehadiran seorang ayah yang penuh kasih sayang di samping bayi kelak akan membantu si bayi menghadapi berbagai masalah dan kelompok yang lebih dari dua orang.Un/dari berbagai sumber/FAD.
http://www.kumpulbocah.com/2006/01/08/sikap-ayah-pengaruhi-perkembangan-eq-bayi/

Selengkapnya..

Sentuhan Ayah Terhadap Pendidikan Anak

Warisan pendidikan secara turun temurun membuat orang beranggapan bahwa pengasuhan anak sepenuhnya adalah tanggung jawab ibu. Namun kini terjadi pergeseran konsep, dari motherhood menjadi parenthood. Dalam konsep parenthood, bukan hanya ibu yang mengasuh anak, melainkan orang tua yang terdiri dari; ibu dan ayah.

Semangat inilah yang sedang “merasuki” para ayah muda masa kini. Mereka berusaha untuk tidak menjadi sosok yang menakutkan bagi anak. Mereka ingin berperan dalam pertumbuhan anak. Tapi adakah peran yang berbeda yang tidak diberikan oleh ibu?

Ayah yang menjalankan peran pengasuhan secara maksimal sangat mempengaruhi peningkatan kecerdasan dan kemampuan motorik anak. Hal ini terjadi karena saat bermain bersama anak, ayah seringkali melakukan aktivitas yang relatif jarang dilakukan saat anak bermain dengan ibu, seperti; bergulat, atau bermain kuda-kudaan.

Permainan yang mengarah pada kontak fisik ini tentu saja akan mengasah kemampuan motorik anak. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak juga mempengaruhi perkembangan kongnitif anak.

Sebuah hasil penelitian menunjukkan anak-anak yang memiliki hubungan intens dengan ayah dimasa kecil memiliki ketrampilan berbahasa lebih baik.

Sedangkan interaksi yang baik antara anak dan ayah diketahui sangat mempengaruhi kecerdasan emosional seorang anak yang membuatnya tumbuh menjadi sosok dewasa yang berhasil.

Fakta ini tentu menyenangkan untuk diketahui para ayah yang telah terlibat intens dalam perkembangan anak mereka. Namun, jika hal ini belum dilakukan maka Anda dapat mengajak suami untuk segera melakukannya. Cobalah tip berikut ini:

1. Dimulai semasa hamil

Sebaiknya seorang suami mulai mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ayah sejak istrinya mengandung. Anda dapat berperan aktif selama masa kehamilan 9 bulan, dan membantu kehamilan istri. Caranya adalah; mencari informasi tentang kondisi kehamilan istri, mengikuti senam persiapan persalinan, membaca buku tentang kehamilan dan cara merawat bayi.

2. Turut merawat bayi

Jangan ragu untuk mengganti popok, memandikan dan mengasuh anak sejak masih bayi. Tidak perlu takut melakukan kesalahan karena hal tersebut wajar. Interaksi langsung dengan anak sejak dini membuatnya dapat merasakan kehadiran dan sosok ayah sebagai orang yang dapat diandalkannya.

3. Aktivitas bersama

Pada masa pertumbuhan, lakukanlah aktivitas bersama yang menyenangkan, seperti; bermain, membaca atau berjalan-jalan. Ciptakan juga permainan yang menarik bagi si kecil.

4. Jadilah pendengar yang baik

Jagalah keseimbangan antara waktu beraktivitas di luar rumah, dan aktivitas bersama keluarga. Upayakan waktu untuk selalu ada saat anak membutuhkan Anda. Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak. Hal ini juga membuat Anda terlibat dalam kehidupan sosialnya dan mengenali nama teman-teman si si kecil. Jangan tunjukkan wajah kelelahan pada si kecil karena membuat anak malas bercerita. Dengan menjadi pendengar yang baik, Anda membuat si kecil dapat mengekspresikan dirinya.

5. Ciptakan Komunikasi yang baik

Biasakan untuk selalu menghubungi si kecil di mana pun Anda berada. Tunjukkan perhatian dan rasa saying Anda melalui telepon, sms atau chatting.

6. Berikan kepercayaan dan kebebasan

Kepercayaan yang Anda berikan bisa membuat si kecil tumbuh menjadi anak percaya diri dan mandiri. Berikan juga kebebasan baginya untuk memilih dalam hidupnya mulai dari masalah sepele seperti memilih baju sampai memilih sekolah. Akibatnya ia akan merasa dihargai dan bertanggung jawab pada dirinya. Sebagai seorang ayah Anda bisa mendampinginya.

Sumber: conectique.com
http://www.kumpulbocah.com/2006/01/08/sentuhan-ayah-terhadap-pendidikan-anak/

Selengkapnya..

Jadikan Komputer Sahabat Anak

Jaman memang sudah bergulir. Seiring pergerakan jaman, tentunya kecanggihan teknologi seperti komputer sudah bukan barang mewah lagi. Bahkan melihat anak berumur 5 tahun demikian lancarnya bermain komputer sudah bukan penampakan aneh lagi. Bisa jadi malahan si buyung dan upik di rumah juga sudah lebih paham klak-klik mouse komputer dibandingkan Anda.

Komputer seakan menjadi 2 sisi mata uang yang total berbeda. Di satu sisi benda ini bisa membanjiri anak Anda dengan tambahan pengetahuan segudang, tapi di sisi lain, bahwa ia akan lebih asyik main komputer dibanding bergaul dengan teman seumurannya juga menjadi kekuatiran yang Anda simpan. Ketergantungan akan benda satu ini juga bisa menjadi masalah tersendiri.

Tasya (4) yang baru belajar mengenal komputer, sudah asyik menjajal program pendidikan dalam mengenal warna dan bentuk, sementara Rafi kini pintar matematika lantaran sering berlatih dengan bantuan komputer. Sedangkan di sisi lain, Dino (6 tahun) kini lebih sukai bergaul dengan komputer daripada dengan teman-temannya. Ia bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain games dan jadi malas sekolah.

Kemunculan teknologi komputer sendiri sesungguhnya bersifat netral. Pengaruh positif atau negatif yang bisa muncul dari alat ini tentu saja lebih banyak tergantung dari pemanfaatannya. Bila anak-anak dibiarkan menggunakan komputer secara sembarangan, pengaruhnya bisa jadi negatif. Sebaliknya, komputer akan memberikan pengaruh positif bila digunakan dengan bijaksana, yaitu membantu pengembangan intelektual dan motorik anak.

Pemagaran komputer

Sebenarnya kata pemagaran ini hanya sebagai ungkapan agar orang tua bisa membimbing anak memanfaatkan komputer tanpa harus membuat si anak terkena imbas negatifnya.

Yang harus dicermati mungkin adalah konsumsi games dan internet. Berbagai variasi games komputer kadang luput dari pengawasan orang tua. Padahal kadang games cukup sarat dengan unsur kekerasan dan agresivitas. Banyak pakar pendidikan mensinyalir bahwa games beraroma kekerasan dan agresi ini adalah pemicu munculnya perilaku-perilaku agresif dan sadistis pada diri anak. Untuk internet, mungkin ini menjadi masalah bagi buah hati Anda yang sudah beranjak semakin besar. Akses internet sesungguhnya merupakan suatu awal yang baik bagi pengembangan wawasan anak. Sayangnya, anak juga terancam dengan banyaknya informasi buruk yang membanjiri internet, seperti materi bermuatan seks dan kekerasan yang dijajakan secara terbuka dan tanpa penghalang.

Bahaya Kecanduan

Perlu diperhatikan juga, tidak hanya obat-obatan yang bisa mengakibatkan kecanduan, karena komputer pun bisa melakukan hal yang sama pada buah hati Anda. Pengaruh negatif kecanduan bermain komputer ini memicu anak menjadi malas menulis, menggambar atau pun melakukan aktivitas sosial. Lalu apa yang seharusnya Anda lakukan sebagai orang tua agar komputer tetap bisa bersahabat dan bukan menjadi musuh bagi anak? Perhatikan hal berikut..

Tegas

Kecanduan bermain komputer bisa terjadi terutama karena sejak awal orangtua tidak membuat aturan bermain komputer. Buatlah kesepakatan dengan anak mengenai waktu bermain komputer. Misalnya, anak boleh bermain komputer sepulang sekolah setelah selesai mengerjakan PR hanya selama satu jam. Waktu yang lebih longgar dapat diberikan pada hari libur.

Kesempatan

Berikan kesempatan pada anak untuk belajar dan berinteraksi dengan komputer sejak dini. Apalagi mengingat penggunaan komputer adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari pada saat ini dan masa yang akan datang.

Awas Efek

Cahaya yang terlalu terang dan jarak pandangan terlalu dekat dapat mengganggu indera penglihatan anak. Awasi hal ini untuk mencegah terganggunya fungsi indera buah hati Anda.

Selektif

Pilihlah software tertentu yang memang ditujukan untuk anak-anak. Sesuaikan selalu dengan usia dan kemampuan anak.

Safety

Harus aman. Perhatikan keamanan anak saat bermain komputer dari bahaya tegangan listrik. Jangan sampai terjadi konsleting atau kemungkinan kesetrum terkena bagian tertentu dari badan CPU komputer.

Kenyamanan

Berikan meja atau kursi komputer yang ergonomis dan sesuai dengan bentuk serta ukuran tubuh anak. Buat buah hati Anda sedemikian halnya nyaman. Bentuk property yang tidak ergonomis bisa berpengaruh buruk pada perkembangan anatomi bentuk tubuh si anak.

Sosialisasi

Jangan sampai karena terlalu asik bermain komputer, anak Anda jadi lupa bergaul dengan teman-teman sepantarannya. Tanamkan padanya bahwa komputer bukanlah satu-satunya aktivitas menyenangkan yang bisa dilakukan karena bermain dan sosialisasi dengan teman-teman juga tidak kalah menariknya.

Nah, selamat bermain komputer..

Sumber: hanyawanita.com
http://www.kumpulbocah.com/2006/01/08/jadikan-komputer-sahabat-anak

Selengkapnya..
Google
 

Kembali lagi ke atas