Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

09 April 2008

Update Lagi



Hallo......

Wah udah lama banget ngga update blog... Kemana aja yak? Wow banyak banget berita dan cerita yang bisa ditulis disini.. Oia sekarang saya udah ngga di Balikpapan lagi, udah kembali ke hiruk pikuknya ibukota Indonesia... Yaudah, mulai nge-blog lagi deh... Dan INGAT! Saya cuma blogger pemula (baca:rookie) bukan HACKER, CRACKER, KEROKAN ato apalah yang ga jelas... hehehehe

Selengkapnya..

29 Oktober 2007

"Bunuhlah seekor ayam untuk menakuti seribu ekor kera"

Bangsa Ini Memerlukan Zhu
Oleh: Asro Kamal Rokan (Republika Online)

Xiao Hongbo telah dihukum mati pekan lalu. Delapan orang pacarnya --yang
dibiayai dalam kehidupan mewah-- mungkin hanya menangisi lelaki berusia 37
tahun. Tidak ada yang bisa membantunya.

Deputi manajer cabang Bank Konstruksi China, salah satu bank milik negara,
di Dacheng, Provinsi Sichuan, itu dihukum mati karena korupsi. Xiao telah
merugikan bank sebesar 4 juta yuan atau sekitar Rp 3,9 miliar sejak 1998
hingga 2001. Uang itu digunakan untuk membiayai kehidupan delapan pacarnya.

Xiao Hongbo satu di antara lebih dari empat ribu orang di Cina yang telah
dihukum mati sejak 2001 karena terbukti melakukan kejahatan, termasuk
korupsi. Angka empat ribu itu, menurut Amnesti Internasional (AI), jauh
lebih kecil dari fakta sesungguhnya. AI mengutuk cara-cara Cina itu, yang
mereka sebut sebagai suatu yang mengerikan.

Tapi, bagi Perdana Menteri Zhu Rongji inilah jalan menyelamatkan Cina dari
kehancuran. Ketika dilantik menjadi perdana menteri pada 1998, Zhu dengan
lantang mengatakan, ''Berikan kepada saya seratus peti mati, sembilan puluh
sembilan untuk koruptor, satu untuk saya jika saya melakukan hal yang
sama.''

Zhu tidak main-main. Cheng Kejie, pejabat tinggi Partai Komunis Cina,
dihukum mati karena menerima suap lima juta dolar AS. Tidak ada
tawar-menawar. Permohonan banding wakil ketua Kongres Rakyat Nasional itu
ditolak pengadilan. Bahkan istrinya, Li Ping, yang membantu suaminya meminta
uang suap, dihukum penjara.

Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi, Hu Chang-ging, pun tak luput dari peti
mati. Hu terbukti menerima suap berupa mobil dan permata senilai Rp 5
miliar. Ratusan bahkan mungkin ribuan peti mati telah terisi, tidak hanya
oleh para pejabat korup, tapi juga pengusaha, bahkan wartawan. Selama empat
bulan pada 2003 lalu, 33.761 polisi dipecat. Mereka dipecat tidak hanya
karena menerima suap, tapi juga berjudi, mabuk-mabukan, membawa senjata di
luar tugas, dan kualitas di bawah standar. Agaknya Zhu Rongji paham betul
pepatah Cina: bunuhlah seekor ayam untuk menakuti seribu ekor kera.

Dan, sejak ayam-ayam dibunuh, kera-kera menjadi takut, kini pertumbuhan
ekonomi Cina mencapai 9 persen per tahun dengan nilai pendapatan domestik
bruto sebesar 1.000 dolar AS. Cadangan devisa mereka sudah mencapai 300
miliar dolar AS.

Sukses Cina itu, menurut guru besar Universitas Peking, Prof Kong Yuanzhi,
karena Zhu serius memberantas korupsi. Perang terhadap korupsi diikuti
dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Zhu mengeluarkan dana besar
untuk pendidikan manajemen, mengirim ribuan siswa belajar ke luar negeri,
dan juga mengundang pakar bisnis berbicara di Cina.

Kini, lihatlah apa yang terjadi di Indonesia.

Pengangguran terus bertambah, anak-anak gadis dari desa terpaksa menjadi
pelacur di kota, lulusan SMU menjadi pengamen, anak-anak SD yang malu tidak
dapat membayar uang sekolah, bunuh diri. Ratusan ribu orang tumpah ke
kota-kota karena di desa tidak ada harapan. Ratusan ribu orang menjadi
tenaga kerja di luar negeri, ditipu calo dan disiksa majikannya. Mereka
adalah korban. Koruptor menghisap hidup mereka, bertahun-tahun tanpa ada
yang menolong. Koruptor mengambil hak mereka atas tanah, hak mereka atas
air, hak mereka untuk sekolah, hak mereka untuk berdagang, hak mereka untuk
bekerja, hak mereka untuk mendapatkan layanan, hak mereka untuk kesehatan.
Apalagi hak yang tersisa untuk orang-orang miskin itu?

Pemerintah bukan penolong orang-orang miskin, terkadang mereka juga
mengambil uang dari orang-orang miskin. Bangsa ini memerlukan orang seperti
Zhu Rongji, bukan pesolek.

Sebab, inilah keadaan utama Indonesia:

Jatuhkanlah tiga buah batu dari pesawat udara di wilayah Indonesia, maka
yakinlah satu di antara batu itu akan mengenai kepala koruptor!

Selengkapnya..

Terjadi Pergeseran?


Selengkapnya..

23 September 2007

Arti sebuah Pesta Pernikahan Oleh : Ely Susanti

Wah! Hari ini saya akan makan steak gratis!!

Lucu juga rasanya dijaman yang sudah serba modern masih ada juga "makcomblang" yang mungkin sekarang sudah dipoles dengan nama lain yang tetap tugasnya sama : mempertemukan pria dan wanita yang sedang mencari pasangan untuk menikah.

Dan karena jadi makcoblang inilah saya jadi makan steak gratis.



Teman saya seorang wanita yang cukup cantik, menarik, energik dan mandiri, di usianya yang belum 25 sudah bingung mencari pasangan untuk menikahinya.

Dan rasanya fenomena ini ada dimana mana, apa lagi didukung statistik yang menyatakan bahwa jumlah wanita di dunia 3 kali lebih banyak daripada pria, yang berarti kesempatan cari jodohnya juga lebih kecil untuk wanita.

Yang menarik perhatian saya adalah setelah saya bertanya kepada (beberapa) teman wanita saya yang sering saya comblangin, kenapa mereka ingin menikah?

Jawbannya cukup membuat saya kaget, rata-rata adalah tidak tahu, karena orangtua sudah mendesak atau karena sudah seharusnya menikah tho?? Begitu kebanyakan dari mereka mendasari keinginannya untuk menikah.

Saya juga sering bertanya pada para mahasiswi yang menjadi crew saya bila ada event, apakah kalian ingin menikah suatu hari nanti? Jawabannya pasti YA! Dan kalau di tanya kenapa, banyak yang tidak jelas kenapanya bahkan banyak juga yang bilang karena impian dari kecil ingin pakai baju pengantin yang cantik dan menjdai seorang putri atau ratu sehari.

Wow!! Saya dan teman-teman semasa kuliah juga sering melihat pasangan yang mengadakan pesta pernikahan sebagai seorang putri dan pangerannya, rasanya begitu romatis, begitu menyenangkan dan bahagia. Seakan akan kita melihat itulah akhir dari film/cerita kehidupannya yang berakhir dengan pernikahan dan bahagia selamanya seperti dalam dongeng yang sering diceritakan pada masa kanak-kanak kita.

Setelah mengalami sendiri, pernikahan yang sesungguhnya bukan dilihat dari indahnya pesta, bukan dilihat dari betapa romantis dan hebatnya acara yang digelar atau bukan hanya kebahagiaan yang terpancar pada hari itu saja.

Seandainya kita akan memulai suatu usaha baru, kita tentu merancang dulu, apa tujuan kita mendirikan perusahaan, apa visi dan misinya dan aturan-aturan apa yang harus dijalani untuk mensukseskan perusahaan tersebut.

Saya rasa ini mirip dengan pernikahan, dalam pernikahan akan sangat baik kalau kita mengerti mengapa kita mau menikah, apa visi dan misi pernikahan kita dan apakah ada aturan-aturan yang harus dijalani (yang sangat tidak disuka pasangan dan saya).

Dalam tugas saya sebagai Wedding Organizer sering kali saat konsultasi awal akan ada beberapa hal dimana calon mempelai wanita akan menginginkan hal ini dan itu dan disatu pihak orangtua pria atau bahkan mempelai pria sendiri tidak suka/tidak mau, dan menginginkan hal yang sangat berbeda. Diawal biasanya terjadi pertahanan keinginan dan pada saat terpisah dimana saya bersama calon mempelai wanita berdua, saya selalu menyarankan untuk mengalah dan memberikan sedikit kompromi untuk mendapatkan jalan tengah, dengan memberikan pengertian bahwa arti pernikahan sebenarnya bukan terletak pada kesempurnaan acara menurut kita, walaupun pernikahan sekali seumur hidup dan adalah moment yang ditunggu wajar kalau kita ingin membuatnya sempurna seperti yang kita mau. Tetapi dibalik pesta pernikahan ada yang jauh lebih penting, menghargai keinginan dan pendapat pasangan, keharmonisan hubungan antar keluarga, kebahagiaan orangtua, rasa hormat atas orangtua dan rasa terimakasih atas kebaikan orangtua telah membesarkan pasangan kita dan mau menerima kita sebagai anaknya. Lagipula sukses pernikahan tidak dilihat dari pestanya, masih banyak tantangan dibelakang itu, dari sini saya akan membimbingnya membuat tujuan, visi dan misi pernikahan. Dengan memberikan pengertian diatas, selanjutnya sangat mudah membuat mereka menemukan kata sepakat dan terjadilah sebuah pesta pernikahan yang benar-benar indah karena mengandung keharmonisan, rasa hormat dan rasa terimakasih dan cinta yang sesungguhnya.

Karena rasa cinta dan pengertian yang terpancar hari itu akan mendasari hari-hari berikutnya dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan semoga cinta dan pengertian yang tulus bisa menjadi pegangan apabila ada badai yang sedang ’melewati’ kehidupan rumah tangga nantinya.

Hidup kita bukan seperti dongeng yang berakhir hanya pada sebuah pesta pernikahan yang meriah, setelah pesta usai masih ada tantangan yang harus di hadapi dan untuk meraih kebahagiaan dalam rumah tangga kita memang harus berusaha, karena kebahagian itu tidak datang dengan sendirinya.

Salam cinta dan semoga berguna

Copyright@Ely Susanti – maret.2007

Selengkapnya..

Rahasia Puasa

Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia pada tahun ini merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita. Betapa tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, amat banyak keuntungan yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan.



Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.

a.Menguatkan Jiwa.

Dalam hidup hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya yang artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya” (QS 45:23).

Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi” (HR.Tirmidzi).

b.Mendidik Kemauan.

Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu, Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

c.Menyehatkan Badan.

Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

d.Mengenal Nilai Kenikmatan.

Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh. Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasaakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air.

Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil. Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS 14:7).

e.Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain.

Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina dan sebagainya. Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).

SAMBUT DENGAN GEMBIRA.

Karena rahasia puasa merupakan sesuatu yang amat penting bagi kita, maka sudah sepantasnyalah kalau kita harus menyambut kedatangan Ramadhan tahun ini dengan penuh rasa gembira sehingga kegembiraan kita ini akan membuat kita bisa melaksanakan ibadah Ramadhan nanti dengan ringan meskipun sebenarnya ibadah Ramadhan itu berat. Kegembiraan kita terhadap datangnya bulan Ramadhan harus kita tunjukkan dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan Ramadhan tahun sebagai momentum untuk mentarbiyyah (mendidik) diri, keluarga dan masyarakat kearah pengokohan atau pemantapan taqwa kepada Allah Swt, sesuatu yang memang amat kita perlukan bagi upaya meraih keberkahan dari Allah Swt bagi bangsa kita yang hingga kini masih menghadapi berbagai macam persoalan besar. Kita tentu harus prihatin akan kondisi bangsa kita yang sedang mengalami krisis, krisis yang seharusnya diatasi dengan memantapkan iman dan taqwa, tapi malah dengan menggunakan cara sendiri-sendiri yang akhirnya malah memicu pertentangan dan perpecahan yang justeru menjauhkan kita dari rahmat dan keberkahan dari Allah Swt.

Selengkapnya..

Mudik

Mudik, Ramadhan, dan Idul Fitri memang satu rangkaian dalam satu gerbong ritual-budaya. Sebagaimana mudik, Idul Fitri dan Ramadhan seringkali hanya bermakna sebagai rutinitas ritual tanpa makna.



Mudik, seakan telah menjadi ritus budaya, yang sedemikian mentradisi dalam masyarakat kita. Fenomena mudik berkait-kelindan dengan perayaan Idul Fitri, atau akrab disebut Lebaran. Dari segi ritus budaya, mudik biasanya ditandai dua hal. Pertama, mudik menjadi “kebutuhan primer” tahunan masyarakat urban. Kedua, walaupun memiliki korelasi waktu dengan Idul Fitri yang nota bene ritual Islam, mudik juga melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat, termasuk non-Muslim.

Tradisi mudik dijadikan sebagai wahana klangenan atau “jembatan nostalgia” dengan masa lalu. Pemudik yang rata-rata berasal dari desa, diajak bercengkerama dengan romantisme alam pedesaan, yang di dalam konsep antropologi dikenal dengan sebutan close coorporate community. Pemudik merindukan nilai-nilai kebersamaan alamiah yang jarang lagi mereka temui di kota, karena ketatnya persaingan memburu “status”. Di sinilah ada benang merah yang dapat ditarik, mengapa keinginan pemudik untuk mengenang “sejarah” dirinya barang sejenak selalu dilakukan beriringan dengan perayaan Idul Fitri.

Hal di atas bisa dimaklumi, karena selama masa perantauannya, masyarakat urban “dipaksakan” menerima dan menjalankan tatanan sosial yang sebenarnya bertentangan dengan “kodratnya.” Hubungan sosial di perkotaan (tempat mereka mengais rejeki), berbeda 180 derajat dengan solidaritas sosial yang dibangun di pedesaan, yang lebih menekankan ikatan emosional, moralitas dan kekerabatan. Solidaritas ala masyarakat perkotaan lebih didasarkan pada hubungan pekerjaan dan kepentingan (vested interest), terutama kepentingan ekonomi.

Dalam konteks ini, Idul Fitri sebagai push factor mudik, sebenarnya memiliki titik temu dengan mudik. Praktis sebelas bulan lamanya manusia disibukkan dengan segala aktivitas yang bisa memalingkan dirinya dari potensi keilahian. Sejak zaman azali, Alquran telah menceritakan adanya tawar-menawar metafisis (mitsaq) yang mengisyaratkan bahwa manusia menurut fitrahnya adalah beragama (Q.s al-A’raf:172). Tapi seiring perjalanan waktu, suara Tuhan sayup-sayup tersisihkan oleh seabrek agenda kegiatan kita.

Puasa di bulan Ramadhan merupakan upaya memudikkan fitrah manusia pada jalur awalnya. Kegagalan dalam memudikkan fitrah kemanusiaan ini akan menggiring pada absurditas dalam keberagamaan. Sebagai makhluk serba terbatas (relativismus uber alles), manusia memilih beragama justru dalam rangka menyempurnakan dirinya.

Melalui Idul Fitri, manusia dituntut mampu melakukan pemaknaan kembali terhadap fitrah kemanusiannya. Jika dalam paradigma modernisme, kebermaknaan dilihat dari ukuran material, maka dengan Idul Fitri kebermaknaan manusia diukur dari seberapa dalam kemampuannya dalam mentransedensikan dirinya melalui olah rohani serta kemampuannya merajut jalinan kasih dengan sesama manusia.

Mudik, Ramadhan, dan Idul Fitri memang satu rangkaian dalam satu gerbong ritual-budaya. Sebagaimana mudik, Idul Fitri dan Ramadhan seringkali hanya bermakna sebagai rutinitas ritual tanpa makna. Setelah Idul Fitri berlalu, festival kesalehan (formal) selama satu bulan penuh juga turut berlalu, dan masing-masing kembali pada ritme kehidupan biasanya, tanpa bekas. Kita sering memperlakukan Idul Fitri sebagai mudik: momentum nostalgia mengingat potensi keilahian dalam diri manusia untuk kemudian menanggalkannya setelah perayaan itu usai. Acapkali orang yang mudik sekadar meromantisasi masa lalunya untuk kemudian kembali pada hiruk-pikuk “dekadensi” kehidupan kota.

Selengkapnya..

12 September 2007



Marhaban ya Ramadhan,
Bulan dimana nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amal kita diterima dan do'a kita di ijabah.
Sebelum cahaya surga padam, Sebelum hidup berakhir, Sebelum pintu tobat tertutup, Sebelum Ramadhan datang, saya mohon maaf lahir dan bathin.... Taqqobalahu Minna Waminkum, Taqoballahu Ya Karim, Marhaban Ya Ramadhan Allaahumma baariklanaa fi Sya'ban wa ballighnaa Ramadhan Aminn.
" Do'a Malaikat Zibril Menjelang Ramadhan "
"Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
* Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
* Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri;
* Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapat kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum'at.


SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA

Selengkapnya..

02 September 2007

Empat Tewas Akibat Longsor di Balikpapan

BALIKPAPAN-MIOL: Empat orang tewas akibat tertimpa tanah longsor di Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu pagi.

Keempat korban tewas akibat tanah longsor tersebut adalah Hasanuddin, 84, dan Nifda Aisyah, 13, keduanya warga RT 49 kelurahan Gunung Sari Ilir, sementara dua korban lainnya dari kelurahan Telaga Sari, yakni Jumadi, 43, warga RT 01 dan Joni Sambayang, 42, warga RT 07.

Menurut keterangan Kapolresta Balikpapan Ajun Komisaris Besar Gde Sugianyar Dwi Putra di tempat kejadian, bahwa tewasnya ke empat korban akibat tertimpa tanah longsor di sekitar pemukiman mereka.

“Mereka yang tertimpa reruntuhan tanah di kawasan Telaga Sari ini, akibat longsornya jalan utama, sehingga arus air menerjang rumah penduduk yang terletak di bawahnya," kata Gde Sugianyar.

Longsornya tanah sepanjang 40 meter dengan kedalaman 10 meter di jalan utama Jalan Arif Fadilah, Telaga Sari, ini akibat arus air yang deras di kawasan telaga yang ada di sekitarnya.

Kapolresta telah memerintahkan kawasan yang rawan longsor untuk diberi garis polisi, pasalnya banyak masyarakat yang ingin melihat kawasan longsoran.

"Saat ini kami menghimbau agar warga sekitar kawasan yang rawan dan dekat berbukitan agar segera menyingkir demi keselamatan," pintanya.

Gde Sugianyar langsung melaporkan kejadian ke Kapolda Kaltim Inspektur Jenderal Indarto, sementara itu Wali Kota Balikpapan Imdaad Hamid sedang ke Singapura untuk periksa kesehatan.

Gde Sugianyar pun langsung menuju tempat penampungan sementara, seperti di mesjid untuk melihat para korban yang selamat.

Salah satu pengungsi ada seorang nenek yang kedinginan mengaku makan. "Saya dari pagi belum makan Pak, dan kedinginan," kata Si Nenek.

Selanjutnya Kapolresta memerintahkan anggota segera mencari makan buat para pengungsi. (Ant/OL-03)

Selengkapnya..

Ramadhan Sang Tamu Agung


Allah telah memilih bulan Ramadhan bagi ummat Islam
sebagai satu bulan yang penuh berkah dan mulia
(Dr. Yusuf al-Qaradhawi)


Kedatangan seorang tamu bagi seseorang, apalagi tamu yang membawa segala yang diharapkan pastilah orang itu akan merasa riang dan gembira. Kenapa? Setidaknya, sang tamu dapat memenuhi harapan kita sebagai tuan rumah. Bagi orang yang sudah memiliki keluarga dan anak-anak, kehadiran tamu merupakan hal yang sangat menyenangkan, apalagi sang tamu sudah lama dinanti dan diidam-idamkan dalam waktu yang begitu lama. Belum lagi bila sang tamu tergolong the have. Bukan tidak mustahil sang tamu dapat membantu meringankan beban materil tuan rumah. Begitu pula kiranya -hemat penulis-dengan bulan Ramadhan. Bulan yang mulia, penuh berkah, bertabur pahala dan lipatan ganjaran kebaikan merupakan Sang Tamu Agung yang harus kita sambut dengan senang dan gembira.

Ramadhan adalah tamu yang banyak membawa keberkahan, nikmat, curahan pahala dan berbagai kebaikan. Sangat naïf sekali jika seorang Muslim tidak sadar akan kehadiran Sang Tamu Agung ini. Apalagi kalau sampai lalai dan baru sadar ketika sang tamu sudah akan pergi meninggalkan sang tuan rumah. Bukankah nabi saw. mengatakan bahwa jika seorang tamu datang berkunjung, ia membawa seribu berkah?

Ramadhan : Tamu yang penuh berkah

Allâh telah mewajibkan ibadah puasa kepada kita pada bulan Ramadhan. Tidak mungkin Allâh mewajibkannya pada bulan tersebut, kecuali mengandung rahasia-rahasia yang luar biasa, hikmah yang tinggi, ada yang sudah kita ketahui dan ada yang belum kita ketahui yang sebagian dari hikmah dan rahasia tersebut telah diketahui oleh para ilmuwan sejalan dengan kemajuan zaman (Dr. Yusuf al-Qaradhawi, 1995: 288).

Ada sebagian orang yang merasa berat menjalankan perintah ibadah puasa. Padahal, sesungguhnya, perintah ibadah puasa -yang dari dimensi lahiriah adalah latihan dari menahan diri dari makan, minum dan berhubungan biologis-sama sekali bukanlah sebuah paksaan yang bertujuan untuk menyakiti atau menyengsarakan manusia. Di balik perintah puasa itu justru ada sebuah target, yakni proses penyehatan secara ruhaniah. Dan yang demikian itu sangat penting bagi kelangsungan manusia itu sendiri (Dr. Nurcholish Madjid, 2001: 58).

Diantara hikmah dari perintah menahan lapar, dahaga adalah untuk membersihkan (mensucikan) lambung dan mengolah (melatih) diri (al-nafs). Pembersihan lambung berdasrkan pada sebuah hadîts nabi saw.; Perut yang terlalu penuh dengan makanan adalah sumber penyakit, dan menolak makanan (puasa) adalah awal dari proses pengobatan. Jadi, puasa Ramadhân dapat membersihkan lambung dari sisa-sisa makanan yang dimasukkan ke dalamnya selama setahun.

Hujjatul Islam, Imam al-Gazhali berkata bahwa sesuatu yang paling berbahaya bagi anak Adam adalah syahwat perut. Karena syawat tersebut Adam dan Hawa' dikeluarkan dari sorga ke dalam alam yang penuh kehinaan dan kefakiran (dunia). Dan ternyata, perut merupakan gudang segala bentuk syahwat dan tempat bersemayamnya penyakit dan keburukan (bencana) (Muhammad 'Athiyah al-Abrasy, 2002: 102-103).

Menurut al-Qaradhawi juga, ternyata jenis penyakit memang banyak datang dari perut manusia yang mereka penuhi dengan berbagai jenis makanan apa saja yang mereka senangi yang tidak pernah mereka beda-bedakan; apakah makanan tersebut baik atau tidak, halal atau haram; Tidak ada satu tempat pun yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih jelek dari perutnya....(HR. Al-Tirmidzi, dihasankan oleh Ibnu Mâjah dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya) [al-Qaradhâwi, Op.Cit., 290].

Oleh karenanya Nabi saw. menganjurkan umatnya agar memanage perutnya sedemikian rupa, agar tidak dipenuhi oleh makanan dan minuman saja. Namun, perutnya harus dibagi menjadi tiga segmen; satu bagian untuk makanan, satu bagian untuk minuman dan satu bagian lagi untuk dirinya (bekerja, bernafas, berkativitas dan beribadah kepada Allah Swt.).

Sebuah majalah menyebutkan bahwa tiga ratus orang telah terhindar dari penyakit diabetes alias kencing manis karena menjalani proses pengobatan dengan berpuasa. Maka, benarlah apa yang telah diproklamirkan oleh Rasulullâh saw. bahwa berpuasa dapat menyehatkan badan (Shumu Tashihhu; Puasalah niscaya kamu akan sehat (HR. al-Thabrani, Sanad para perawinya adalah tsiqat sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab "al-Targhib, karya al-Mundzirî)) [al-Qaradhawi, Ibid., 290].

Di samping itu, puasa juga merupakan sarana untuk memperindah dan menghidupkan hati alias qolbu kita. Karena hati, kata Rasulullah laksana tanaman, akan mati jika terlalu banyak disiram air. Maka jangan kalian hilangkan cahaya hati kalian dengan banyak makan, ujar beliau. Makanya, paramedic kontemporer mengobati penyakit lepra dengan menganjurkan berpuasa kepada pasien sebelum proses operasi dilaksanakan. Ternyata puasa itu merupakan olah-raga spiritual (spiritual sport) yang sangat efektif dan mudah untuk dikerjakan.

Selain dari segi medis, puasa sendiri mengandung banyak keutamaan-keutamaan (al-Fadha'il) yang Allah berikan dan tawarkan bagi siapa yang ingin meraihnya, diantaranya; Tadarrus al-Qur'an, Shalat Tarawih, Sedekah, I'tikaf dan sebagainya. Dan yang paling menggiurkan bahwa Ramadhan memiliki satu malam yang dirahasiakan oleh Allah kehadirannya, yaitu malam Lailatu-l-Qadr; malam seribu bulan.

Adalah hikmah Allah dalam setiap hitungan waktu memiliki nilai dan keistimewaan tersendiri. Dalam satu hari, ada jam istimewa yang diberikan oleh Allah, yaitu jam seperti tiga malam terakhir bagi siapa yang ingin mengerjakan shalat malam. Dalam satu minggu Allah memberikan satu hari istimewa, yaitu hari Jum'at. Dalam satu tahun Allah memberikan satu bulan istimewa -bagi umat Islam, yaitu bulan Ramadhan. Dan di dalam bulan tersebut Allah merahasiakan satu malam yang disebut dengan Lailatu-l-Qadr. Secara Matematis, seribu bulan diperkirakan sekitar 83 tahun.

Subhanallah, bayangkan saudaraku, umur kita saja jarang mencapai angka itu, tapi Allah memberikan nilai pahala sekitar 83 tahun bagi siapa yang menemui atau memperoleh malam yang penuh berkah tersebut. Malam tersebut adalah malam interaksi Allah dengan bumi, turunnya al-Qur'an ke dalam hati nabi-Nya, (QS. 97: 1-5) (Abdur Rahim Thalbah Ahmad: 150).

Ternyata Allah menganjurkan pada malam tersebut dan waktu-waktu istimewa lainnya, agar kita bersungguh-sungguh dalam mencapainya. Dalam bulan ini juga, segala bentuk kebaikan dilipatgandakan dari tujuh puluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Pahala amalan yang sunnah dinilai oleh Allah dengan penilaian ibadah wajib. Allahu Akbar!

Puasa dan Takwa

Target akhir dari ibadah puasa adalah mencapai derajat takwa (QS. 2: 183). Takwa adalah kesejajaran "iman" dan "tali hubungan dengan Allah -dengan kata lain merupakan dimensi vertikal hidup yang benar (Dr. Nurcholish Madjid, Op. Cit., 7).

Ayat 183 dari surat al-Baqarah menjelaskan kepada kita bahwa "takwa kepada Allah" merupakan langkah preventive untuk menghadapi segala macam ketimpangan dan ketidakbenaran langkah manusia dalam lingkungan yang kita sendiri adalah bagian dari lingkuangan tersebut. Bertakwallah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, dan ikutilah kejahatan itu dengan kebaikan niscaya akan menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia (HR. Tirmidzi). Hadits tersebut menjelaskan lebih tegas bahwa takwa dan rasa takut kepada Allah merupakan the instrument of self control bagi setiap pribadi Muslim.

Ketika kita menjalankan puasa, di saat berwudhu sebenarnya kita bisa saja korupsi air wudhu; kita telan sedikit ketika kumur-kumur. Rasanya, orang yang berada di samping kita pun tidak akan tahu bahwa kita sedang "korupsi". Tapi kenapa tidak pernah kita lakukan? Karena kita merasa bahwa ada yang mengontrol kita; Allah yang Maha Tahu. Inilah sala satu value dari puasa tadi yang sangat urgen untuk dimiliki dan tidak kita dapatkan di dalam ritual ibadah lainnya. Karena ibadah puasa merupakan ibadah yang bersifat private; yang tidak dapat orang lain mengetahui dan menilainya. Puasa adalah urusan antara Allah dan si pelaku dan Allah sendiri yang bakal menilainya (HR. Ibnu Khuzaimah).

Sungguh Ramadhan merupakan tamu agung yang datang menemui kita umat Islâm. Tamu yang datang membawa limpahan pahala, penggandaan ganjaran, keutamaan-keutamaan ibadah dan sebagainya. Marilah kita sambut kehadirannya dengan hati yang bersih dan dada yang suci. Mudah-mudahan segala yang dibawanya kepada untuk kita benar-benar milik kita yang berguna dan memang kita butuhkan. Amîn!

Selengkapnya..

30 Agustus 2007

Pawang Ucing

Ucing, ucing jangan nakal ya, nurut sama Yaya
Eeeeh mau kemana kamu ucing.....?
Koq ucing ga mau mimi cucu, ntar biat cepet gede kaya Yaya

Selengkapnya..

24 Agustus 2007

SI KECIL TAKUT PADA AYAHNYA

Tak perlu khawatir, asalkan kedua orang tua tetap kompak dalam menerapkan nilai-nilai dan disiplin pada anak.

“Walau saya sudah ngomel-ngomel untuk melarangnya, dia tetap saja melakukannya, seolah tak memperhatikan dan tak dengar. Lain hal kalau ayahnya yang melarang, baru, deh, didengar. Bahkan sampai menangis segala,” ungkap seorang ibu perihal putrinya yang berusia 2 tahun dan tak pernah “takut” padanya.

Pengalaman ini rasanya tak asing bagi kaum ibu yang punya anak batita, bukan? Walau kita marah habis-habisan, tapi, kok, anak adem-ayem saja alias tak ada takutnya. Lain hal jika sama ayahnya, baru diperingati sedikit saja atau baru sekali saja diperingati, anak bisa langsung diam, kadang menekukkan wajahnya karena takut.

Memang, menurut Dra. Risa Kolopaking dari Fakultas Psikologi UI, umumnya anak takut pada ayah. “Seharusnya, sih, anak tidak takut pada kedua orang tuanya, ataupun pada salah satu orang tuanya, karena takut ini menyeramkan buat anak.” Selain itu, jika anak takut pada salah satu orang tua, maka akibatnya anak pun hanya bisa dekat pada salah satu orang tua saja, entah ayah atau ibunya saja.

Anak juga tak mendapat kesempatan yang sama atau seimbang untuk belajar dari jenis kelamin yang berbeda. “Memang anak juga bisa belajar peran dari orang di luar rumah, tapi alangkah baiknya kalau kesempatan itu datangnya dari dalam rumah, yaitu dari orang tuanya sendiri.” Karena bagaimanapun, bila orang tua punya peran yang seimbang, anak akan lebih banyak belajar dalam kehidupannya. Anak dapat mengembangkan kemampuan sosialisasi yang baik dalam kehidupan bermasyarakatnya kelak, misalnya dalam hubungan sosial dengan lawan jenis.

POLA ASUH ORANG TUA
Anak yang takut pada orang tua, terang Risa, adakalanya dalam situasi tertentu saja, misal kalau orang tuanya marah. “Tapi kalau dalam kondisi biasa saja, rata-rata anak tidak takut.” Takutnya bisa karena suara si orang tua yang sedang marah memang keras, pun kala melarangnya, “Awas, tidak boleh!” Sebab, suara keras akan membuat anak kaget, ciut perasaannya, dan akhirnya takut, meski mungkin saja sebenarnya dia pun tak terpikir akan diapa-apakan.

Maka itu, kalau orang tua hendak melarang sesuatu pada anak, saran Risa, tak perlu dengan suara keras dan marah-marah. “Bisa gunakan dengan kelembutan dan dengan tetap memberinya penjelasan, ‘Jangan main air, ya, De. Kamu, kan, sudah mandi, nanti bajunya basah lagi’, misal.”

Selain itu, takutnya anak pada salah satu orang tua juga bisa karena pola pengasuhan dari orang tua itu sendiri. Bisa saja orang tuanya bersikap otoriter dalam menerapkan aturan dan disiplin, sehingga anak takut pada keduanya atau pada salah satunya. “Umumnya, anak takut pada tipe orang tua yang bersikap otoriter. Orang tua bersikap sangat berkuasa, kehendaknya harus dituruti tanpa memahami keinginan dan kebutuhan si anak, hal ini kadang membuat ciut anak.”

Sebetulnya, papar Risa, orang tua tak perlu bersikap otoriter dalam hal menerapkan disiplin atau aturan. Tapi sebaiknya lebih pada pendekatan terhadap si anak. “Sebab, setiap anak berbeda, sehingga menghadapinya juga harus berbeda pula. Ada yang harus dihadapi dengan lembut dan ada yang harus dengan sedikit keras. Tapi pada intinya, anak itu kalau sudah diberi penjelasan, mana yang boleh dan tidak, dan diberitahu alasannya, mereka pun akan belajar sesuatu dan mengerti, kok.”

Memang, kadang ada anak yang mengerti seketika itu juga akan apa yang kita harapkan untuk dikerjakan, tapi ada pula yang mengerti dan hanya sekadar masuk telinganya dan jadi pengetahuannya saja, tapi tidak dia lakukan saat itu. “Jadi, kalau dikatakan tak boleh, dia tetap saja melakukan hal itu.

Sebenarnya, untuk masalah kontrol ini, papar Risa, bisa kita berlakukan reward dan punishment. “Bila anak melakukan seperti yang kita harapkan, kita beri dia hadiah berupa pujian atau dukungan.” Sebaliknya, bila ia tak melakukan apa yang kita harapkan, terapkan punishment. Hanya saja, jangan berupa hukuman fisik, tapi lebih ke arah mengurangi kesenangannya.

PERAN JENIS KELAMIN ORANG TUA
Peran jenis kelamin orang tua juga sangat berpengaruh pada rasa takut anak. Ayah umumnya bersikap tegas dibanding ibu yang biasanya bisa lebih longgar. Walaupun mungkin ibu lebih banyak melarang dibanding ayah, misal dalam hal disiplin, tapi kalau ayahnya yang melarang sesuatu, alasannya selalu tepat dan jelas, sehingga anak tahu kalau yang dia perbuat itu salah. Dengan demikian, begitu ayahnya memberitahunya, melarangnya, hal itu masuk ke dalam hatinya. Ia jadi takut kalau salah.

Kalau pada ibu, karena anak merasa dekat, maka ia pun bisa lebih bernegosiasi. Harus diingat pula bahwa pada tahap-tahap tertentu, kedekatan anak terhadap ibu masih sangat besar, walau peran ayah juga penting, tapi mungkin tidak utama. Jadi, kalau dimarahi atau dinasehati ibu, dia pun seolah tidak mendengar. Bahkan bisa jadi dia malah mengatakan, “Sebentar lagi, ya, Bunda,” atau kalimat merayu lainnya. “Itu, kan, pertanda ia melakukan bargaining.” Juga, anak berani untuk mengungkapkan sesuatu. “Sebenarnya ibu pun bisa menggunakan ini sebagai senjata untuk membuka komunikasi dengan anak, misal, ‘Iya, boleh, tapi sebentar saja, ya, main airnya. Ibu beri waktu 5 menit lagi.’”

Hubungan antara orang tua dan anak pun ada pengaruhnya pada rasa takut anak. Misal, pada anak perempuan, ada sisi-sisi tertentu dari ayah yang bisa membuatnya merasa nyaman dan senang. Mungkin dalam hal bermain. Kadang ibu banyak urusan rumah tangga sehingga kesempatan bermain dengan anak lebih sedikit, sementara ayah mungkin urusan rumahnya tidak sebanyak ibu sehingga kesempatan bermain bersama anak lebih banyak. Ada hal-hal yang menyenangkan bagi anak dari ayahnya. “Bisa saja anak takut salah atau takut tidak disayang oleh ayahnya lagi ketika si ayah yang disenanginya itu melarangnya.”

Bukan itu saja, terang Risa, setiap orang tua pun berbeda-beda. Ada orang tua yang tak senang dengan anak kecil, tak sabaran dan merasa kesal kalau anaknya bermain dan menumpahkan sesuatu, tapi ada juga yang sebaliknya, penuh kesabaran. “Nah, sifat-sifat orang tua juga berpengaruh pada anak.” Jadi, kalau ayahnya melarang, dia akan mendengar karena ayahnya selalu sabar menjelaskannya. “Jangan main air dulu, ya, tapi makan dulu. Biar kamu tak kedinginan dan sakit perut,” misalnya. Sehingga anak paham betul bahwa main air tak boleh karena apa. Lain hal dengan ibunya yang tak sabaran, belum apa-apa sudah teriak-teriak, tanpa menjelaskan penyebab tak bolehnya, juga tidak memahami maksud si anak, sehingga anak pun menentang duluan. Dia akan berpikir, “Pasti, nih, apa yang aku buat selalu tidak boleh, dilarang terus.” Sehingga larangan atau omelan si ibu pun akhirnya hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.

Sebenarnya, papar Risa, ada baiknya juga ayahlah yang ditakuti anak. Justru harus hati-hati bila yang ditakuti adalah ibunya. “Karena kalau ia takut pada ibu, maka ada kemungkinan ia tak dekat dengan ibunya. Padahal seharusnya anak pada masa batita itu lebih dekat dengan orang tua perempuan. Masa-masa batita dan balita, sebenarnya peran ibu masih lebih kuat dan dibutuhkan. Kalau sampai ibunya ditakuti, biasanya akan ada kehilangan sesuatu dalam perkembangan kejiwaannya.”

AYAH DAN IBU HARUS KOMPAK
Yang jelas, jika salah satu orang tua merasa kesulitan karena anaknya tak bisa diberitahu, misalnya, saran Risa, orang tua perlu introspeksi diri apa yang menyebabkan si anak hanya takut pada salah satu orang tuanya saja.

Sebaiknya pula, kedua orang tua jangan saling membandingkan. “Memang terkadang ada kebanggaan tersendiri pada diri orang tua, misal ayahnya, kalau anak lebih mendengar dirinya. Nah, hal seperti itu sebaiknya jangan diperlihatkan di depan anak. Biarkan anak tahu bahwa antara ayah dan ibu setara. Mereka punya kesamaan hal untuk melarangnya.” Walaupun demikian, pesan Risa, orang tua juga jangan asal melarang anak. Melainkan harus menjelaskan, apa, sih, yang menyebabkannya tidak boleh? Jadi, pelarangan itu ada keterangannya sehingga si anak pun paham.

Jika si ibu membuat keputusan, sebaiknya ayah membantu si ibu. Ketika si ibu melarang sesuatu atau marah pada anak, “Kamu tak boleh itu!”, maka ayah pun harus mendukung si ibu, “Sudahlah, De, kan kata Ibu juga tidak boleh.” Jadi anak pun tahu kalau baik ayah maupun ibunya tak suka.

Boleh juga daripada capek-capek, lalu si ibu menyerahkan pada ayahnya, misal, “Nih, Yah, anaknya susah diberitahu.” Hal ini boleh-boleh saja selama ayah dan ibu kompak dalam menerapkan suatu disiplin. Jadi, ibu ada komunikasi dengan ayah untuk mendisiplinkan si anak. Hanya saja, sambungnya, seringkali yang terjadi ayah dan ibu tak kompakan.

Padahal dengan kompak, maka ada peran yang seimbang antara kedua orang tua, sehingga anak pun bisa belajar untuk kehidupannya. “Kalau anak cukup mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, lingkungannya juga baik dan benar secara seimbang, maka anak pun bisa belajar dari situ.”

Selain itu, dalam hal disiplin pun anak jadi tak bingung, nilai mana yang mau dipilih, karena si orang tua kompak. “Kalau anak bingung, akibatnya anak-anak seperti ini bisa jadi tidak percaya diri atau tak acuh sama sekali atau tak bisa disiplin.” Bahkan bisa jadi, salah satu orang tua bisa diremehkan. “Anak jadi tahu cara tricky untuk mencari situasi yang menyenangkannya. Misal, dilarang ayahnya, dia pun lari ke ibunya. Jadi dia tidak belajar suatu nilai yang seharusnya dia pelajari, tapi hanya mencari amannya saja.”
http://www.kumpulbocah.com/2006/01/08/si-kecil-takut-pada-ayahnya/

Selengkapnya..

Sikap Ayah Pengaruhi Perkembangan EQ Bayi

Sikap ayah dari hari ke hari dan dari bulan ke bulan ternyata bisa mempengaruhi EQ bayi. Jika si Ayah suka nempilkan wajal sebal, si bayi konon mengamati dan ikut-ikutan menampilkan wajah sebal juga. Jika si Ayah suka cemburu, eh si bayi juga konon begitu juga.

Usia 0 - 3 Bulan

Hubungan emosional bayi dengan ibunya sudah ada sejak dalam kandungan, demikian kata sebagian pakar. Bayi bisa tahu bila ibunya dalam keadaan stres atau tenang. Jika ibu stres, biasanya bayi ikut rewel, cengeng, dsb.). Jika ibunya tenang, bayi pun tenang. Jika saat ini ibu stres akibat kecemburuan ayah terhadap bayi (yang ditunjukkan lewat perbuatan atau kata-kata yang negatif), otomatis, bayi pun bisa merasakannya dan ikut-ikutan stres.

Sebagian pakar lain mengatakan bahwa hubungan bayi dengan orangtuanya mulai terjalin saat ayah ibunya memberinya minum, menggendong, mendekap, dan menenteramkannya. Kualitas hubungan bayi dengan ayah ibunya di masa ini akan mempengaruhi proses perkembangan keterampilan sosialnya nanti. Jika kecemburuan ayah sampai memperburuk kualitas hubungannya dengan bayi, dikhawatirkan buruk pula proses perkembangan keterampilan sosial si kecil nantinya.

Saat berusia 3 bulan, bayi mulai berminat berinteraksi sosial lewat tatap muka, terutama wajah kedua orangtuanya. Ia akan belajar banyak hal lewat pengamatan dan peniruan bagaimana ‘membaca’ dan mengungkap emosi. Inilah tahap untuk secara aktif mulai melatih emosi bayi. Apa jadinya bila ayah sering menampilkan wajah sebal atau malah membuang muka setiap kali bayi menatapnya? Maka bayi akan mengamatinya, membacanya, dan ikut-ikutan sering menampilkan wajah sebal.

Usia 6 - 8 Bulan

Di usia ini bayi mulai menemukan cara baru untuk mengungkapkan perasaan hatinya, semisal sedih, gembira, takut, marah, dsb. kepada sekelilingnya. Jika sebelumnya ia hanya mampu memikirkan benda atau manusia yang ditatapnya saat itu, sekarang ia sudah bisa memindahkan perhatiannya sambil tetap mengingat objek/manusia tanpa harus menatapnya lagi. Kalau ia senang dengan bola merahnya, ia akan memandang orang tuanya atau orang lain sambil menyampaikan rasa senangnya (lewat senyum, ocehan, atau gelak tawa). Inilah dasar kemampuan untuk bermain dan berinteraksi secara emosional nantinya. Jika bayi lebih banyak merasa sedih/takut pada ayahnya yang galak atau ketus dibakar cemburu, ia akan selalu menatap sekelilingnya dengan ekspresi begitu pula. Mengenaskan, ya!

Usia 9 - 12 Bulan

Di rentang usia ini, bayi mulai memahami bahwa manusia dapat membagi gagasan dan emosi mereka satu sama lain. Bila ayah atau ibu bertanya kepada bayi, “Dedek lagi kesal, ya?”, bayi dapat memahami bahwa orangtuanya ternyata bisa membaca atau mengetahui suasana hatinya. Dengan kata lain bayi mulai memahami bahwa dengan menunjukkan ekspresi tertentu, ia atau orang lain dapat berbagi emosi.

Jika ayah yang cemburu keapda bayi selalu menunjukkan ekspresi negatif (acuh tak acuh, sebal, kesal, dsb.), bayi pun mengetahui suasana hati ayahnya sedang tak bersahabat. Dan jika bayi selalu menjumpai ayahnya dalam keadaan seperti ini, ia pun cenderung menghindar dari sang ayah. Dengan begini, bayi akan kekurangan kasih sayang ayah. Padahal, menurut Robin Skynner, pendiri dan pengajar pada Institute of Family Therapy, Inggris, kehadiran seorang ayah yang penuh kasih sayang di samping bayi kelak akan membantu si bayi menghadapi berbagai masalah dan kelompok yang lebih dari dua orang.Un/dari berbagai sumber/FAD.
http://www.kumpulbocah.com/2006/01/08/sikap-ayah-pengaruhi-perkembangan-eq-bayi/

Selengkapnya..

Sentuhan Ayah Terhadap Pendidikan Anak

Warisan pendidikan secara turun temurun membuat orang beranggapan bahwa pengasuhan anak sepenuhnya adalah tanggung jawab ibu. Namun kini terjadi pergeseran konsep, dari motherhood menjadi parenthood. Dalam konsep parenthood, bukan hanya ibu yang mengasuh anak, melainkan orang tua yang terdiri dari; ibu dan ayah.

Semangat inilah yang sedang “merasuki” para ayah muda masa kini. Mereka berusaha untuk tidak menjadi sosok yang menakutkan bagi anak. Mereka ingin berperan dalam pertumbuhan anak. Tapi adakah peran yang berbeda yang tidak diberikan oleh ibu?

Ayah yang menjalankan peran pengasuhan secara maksimal sangat mempengaruhi peningkatan kecerdasan dan kemampuan motorik anak. Hal ini terjadi karena saat bermain bersama anak, ayah seringkali melakukan aktivitas yang relatif jarang dilakukan saat anak bermain dengan ibu, seperti; bergulat, atau bermain kuda-kudaan.

Permainan yang mengarah pada kontak fisik ini tentu saja akan mengasah kemampuan motorik anak. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak juga mempengaruhi perkembangan kongnitif anak.

Sebuah hasil penelitian menunjukkan anak-anak yang memiliki hubungan intens dengan ayah dimasa kecil memiliki ketrampilan berbahasa lebih baik.

Sedangkan interaksi yang baik antara anak dan ayah diketahui sangat mempengaruhi kecerdasan emosional seorang anak yang membuatnya tumbuh menjadi sosok dewasa yang berhasil.

Fakta ini tentu menyenangkan untuk diketahui para ayah yang telah terlibat intens dalam perkembangan anak mereka. Namun, jika hal ini belum dilakukan maka Anda dapat mengajak suami untuk segera melakukannya. Cobalah tip berikut ini:

1. Dimulai semasa hamil

Sebaiknya seorang suami mulai mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ayah sejak istrinya mengandung. Anda dapat berperan aktif selama masa kehamilan 9 bulan, dan membantu kehamilan istri. Caranya adalah; mencari informasi tentang kondisi kehamilan istri, mengikuti senam persiapan persalinan, membaca buku tentang kehamilan dan cara merawat bayi.

2. Turut merawat bayi

Jangan ragu untuk mengganti popok, memandikan dan mengasuh anak sejak masih bayi. Tidak perlu takut melakukan kesalahan karena hal tersebut wajar. Interaksi langsung dengan anak sejak dini membuatnya dapat merasakan kehadiran dan sosok ayah sebagai orang yang dapat diandalkannya.

3. Aktivitas bersama

Pada masa pertumbuhan, lakukanlah aktivitas bersama yang menyenangkan, seperti; bermain, membaca atau berjalan-jalan. Ciptakan juga permainan yang menarik bagi si kecil.

4. Jadilah pendengar yang baik

Jagalah keseimbangan antara waktu beraktivitas di luar rumah, dan aktivitas bersama keluarga. Upayakan waktu untuk selalu ada saat anak membutuhkan Anda. Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak. Hal ini juga membuat Anda terlibat dalam kehidupan sosialnya dan mengenali nama teman-teman si si kecil. Jangan tunjukkan wajah kelelahan pada si kecil karena membuat anak malas bercerita. Dengan menjadi pendengar yang baik, Anda membuat si kecil dapat mengekspresikan dirinya.

5. Ciptakan Komunikasi yang baik

Biasakan untuk selalu menghubungi si kecil di mana pun Anda berada. Tunjukkan perhatian dan rasa saying Anda melalui telepon, sms atau chatting.

6. Berikan kepercayaan dan kebebasan

Kepercayaan yang Anda berikan bisa membuat si kecil tumbuh menjadi anak percaya diri dan mandiri. Berikan juga kebebasan baginya untuk memilih dalam hidupnya mulai dari masalah sepele seperti memilih baju sampai memilih sekolah. Akibatnya ia akan merasa dihargai dan bertanggung jawab pada dirinya. Sebagai seorang ayah Anda bisa mendampinginya.

Sumber: conectique.com
http://www.kumpulbocah.com/2006/01/08/sentuhan-ayah-terhadap-pendidikan-anak/

Selengkapnya..

Jadikan Komputer Sahabat Anak

Jaman memang sudah bergulir. Seiring pergerakan jaman, tentunya kecanggihan teknologi seperti komputer sudah bukan barang mewah lagi. Bahkan melihat anak berumur 5 tahun demikian lancarnya bermain komputer sudah bukan penampakan aneh lagi. Bisa jadi malahan si buyung dan upik di rumah juga sudah lebih paham klak-klik mouse komputer dibandingkan Anda.

Komputer seakan menjadi 2 sisi mata uang yang total berbeda. Di satu sisi benda ini bisa membanjiri anak Anda dengan tambahan pengetahuan segudang, tapi di sisi lain, bahwa ia akan lebih asyik main komputer dibanding bergaul dengan teman seumurannya juga menjadi kekuatiran yang Anda simpan. Ketergantungan akan benda satu ini juga bisa menjadi masalah tersendiri.

Tasya (4) yang baru belajar mengenal komputer, sudah asyik menjajal program pendidikan dalam mengenal warna dan bentuk, sementara Rafi kini pintar matematika lantaran sering berlatih dengan bantuan komputer. Sedangkan di sisi lain, Dino (6 tahun) kini lebih sukai bergaul dengan komputer daripada dengan teman-temannya. Ia bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain games dan jadi malas sekolah.

Kemunculan teknologi komputer sendiri sesungguhnya bersifat netral. Pengaruh positif atau negatif yang bisa muncul dari alat ini tentu saja lebih banyak tergantung dari pemanfaatannya. Bila anak-anak dibiarkan menggunakan komputer secara sembarangan, pengaruhnya bisa jadi negatif. Sebaliknya, komputer akan memberikan pengaruh positif bila digunakan dengan bijaksana, yaitu membantu pengembangan intelektual dan motorik anak.

Pemagaran komputer

Sebenarnya kata pemagaran ini hanya sebagai ungkapan agar orang tua bisa membimbing anak memanfaatkan komputer tanpa harus membuat si anak terkena imbas negatifnya.

Yang harus dicermati mungkin adalah konsumsi games dan internet. Berbagai variasi games komputer kadang luput dari pengawasan orang tua. Padahal kadang games cukup sarat dengan unsur kekerasan dan agresivitas. Banyak pakar pendidikan mensinyalir bahwa games beraroma kekerasan dan agresi ini adalah pemicu munculnya perilaku-perilaku agresif dan sadistis pada diri anak. Untuk internet, mungkin ini menjadi masalah bagi buah hati Anda yang sudah beranjak semakin besar. Akses internet sesungguhnya merupakan suatu awal yang baik bagi pengembangan wawasan anak. Sayangnya, anak juga terancam dengan banyaknya informasi buruk yang membanjiri internet, seperti materi bermuatan seks dan kekerasan yang dijajakan secara terbuka dan tanpa penghalang.

Bahaya Kecanduan

Perlu diperhatikan juga, tidak hanya obat-obatan yang bisa mengakibatkan kecanduan, karena komputer pun bisa melakukan hal yang sama pada buah hati Anda. Pengaruh negatif kecanduan bermain komputer ini memicu anak menjadi malas menulis, menggambar atau pun melakukan aktivitas sosial. Lalu apa yang seharusnya Anda lakukan sebagai orang tua agar komputer tetap bisa bersahabat dan bukan menjadi musuh bagi anak? Perhatikan hal berikut..

Tegas

Kecanduan bermain komputer bisa terjadi terutama karena sejak awal orangtua tidak membuat aturan bermain komputer. Buatlah kesepakatan dengan anak mengenai waktu bermain komputer. Misalnya, anak boleh bermain komputer sepulang sekolah setelah selesai mengerjakan PR hanya selama satu jam. Waktu yang lebih longgar dapat diberikan pada hari libur.

Kesempatan

Berikan kesempatan pada anak untuk belajar dan berinteraksi dengan komputer sejak dini. Apalagi mengingat penggunaan komputer adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari pada saat ini dan masa yang akan datang.

Awas Efek

Cahaya yang terlalu terang dan jarak pandangan terlalu dekat dapat mengganggu indera penglihatan anak. Awasi hal ini untuk mencegah terganggunya fungsi indera buah hati Anda.

Selektif

Pilihlah software tertentu yang memang ditujukan untuk anak-anak. Sesuaikan selalu dengan usia dan kemampuan anak.

Safety

Harus aman. Perhatikan keamanan anak saat bermain komputer dari bahaya tegangan listrik. Jangan sampai terjadi konsleting atau kemungkinan kesetrum terkena bagian tertentu dari badan CPU komputer.

Kenyamanan

Berikan meja atau kursi komputer yang ergonomis dan sesuai dengan bentuk serta ukuran tubuh anak. Buat buah hati Anda sedemikian halnya nyaman. Bentuk property yang tidak ergonomis bisa berpengaruh buruk pada perkembangan anatomi bentuk tubuh si anak.

Sosialisasi

Jangan sampai karena terlalu asik bermain komputer, anak Anda jadi lupa bergaul dengan teman-teman sepantarannya. Tanamkan padanya bahwa komputer bukanlah satu-satunya aktivitas menyenangkan yang bisa dilakukan karena bermain dan sosialisasi dengan teman-teman juga tidak kalah menariknya.

Nah, selamat bermain komputer..

Sumber: hanyawanita.com
http://www.kumpulbocah.com/2006/01/08/jadikan-komputer-sahabat-anak

Selengkapnya..

Salah satu alasan kenapa babi Haram dalam Islam

Bob: Tolong beritahu saya, mengapa seorang Muslim sangat mementingkan
mengenai kata-kata "Halal" dan "Haram"; apa arti dari kata-kata tersebut?

Yunus: Apa-apa yang diperbolehkan diistilahkan sebagai Halal, dan apa-apa
yang tak diperbolehkan diistilahkan sebagai Haram, dan Al-Qur'an lah yang
menggambarkan perbedaan antara keduanya.

Bob: Dapatkah anda memberikan contoh?

Yunus: Ya, Islam telah melarang segala macam darah. Anda akan sependapat
bahwa analisis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang tinggi
dari uric acid (asam urat?), suatu senyawa kimia yang bisa berbahaya bagi
kesehatan manusia.

Bob: Anda benar mengenai sifat beracun dari uric acid, dalam tubuh manusia,
senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, dan dalam kenyataannya kita
diberitahu bahwa 98% dari uric acid dalam tubuh, dikeluarkan dari dalam
darah oleh Ginjal, dan dibuang keluar tubuh melalui air seni.

Yunus: Sekarang saya rasa anda akan menghargai metode prosedur khusus dalam
penyembelihan hewan dalam Islam.

Bob: Apa maksud anda?

Yunus: Begini... seorang penyembelih, selagi menyebut nama dari Yang Maha
Kuasa, membuat irisan memotong urat nadi leher hewan, sembari membiarkan
urat-urat dan organ-organ lainnya utuh.

Bob: Oh begitu... Dan hal ini menyebabkan kematian hewan karena kehabisan
darah dari tubuh, bukannya karena cedera pada organ vitalnya.

Yunus: Ya, sebab jika organ-organ, misalnya jantung, hati, atau otak
dirusak, hewan tersebut dapat meninggal seketika dan darahnya akan
menggumpal dalam urat-uratnya dan akhirnya mencemari daging. Hal tersebut
mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid, sehingga
menjadikannya beracun; hanya pada masa kini lah, para ahli makanan baru
menyadari akan hal ini.

Bob: Selanjutnya, selagi masih dalam topik makanan; Mengapa para Muslim
melarang pengkonsumsian daging babi, atau ham, atau makanan lainnya yang
terkait dengan babi?


Lebih lanjut lagi, apakah anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih di
leher karena mereka tidak memiliki leher; sesuai dengan anatomi alamiahnya?
Muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi
konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan
memiliki leher.


Namun diluar itu semua, saya yakin anda tahu betul mengenai efek-efek
berbahaya dari komsumsi babi, dalam bentuk apapun, baik itu pork chops, ham,
atau bacon.

Bob: Ilmu kedokteran mengetahui bahwa ada resiko besar atas banyak macam
penyakit. Babi diketahui sebagai inang dari banyak macam parasit dan
penyakit berbahaya.

Yunus: Ya, dan diluar itu semua, sebagaimana kita membicarakan mengenai
kandungan uric acid dalam darah, sangat penting untuk diperhatikan bahwa
sistem biochemistry babi mengeluarkan hanya 2% dari seluruh kandungan uric
acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam tubuhnya.

Selengkapnya..
Google
 

Kembali lagi ke atas